Friday, 6 January 2017

BINTANG TERCANTIK DI LANGIT MALAM

ilustrasi-dongeng-bintang-tercantik-di-langit-malam

Dongeng

Kokebi adalah bintang kecil di langit malam. Saat ini ia sedang bermuram hati. Dengan perasaan biru ia menatap teman-temannya sesama bintang.

“Alangkah senangnya menjadi cantik seperti mereka. Bersinar terang dan dikagumi,” gumam Kokebi.

Kokebi si bintang kecil terkaget karena tanpa disangka ada yang menyahut.


“Memangnya kamu tidak cantik?” kata suara itu.

“Oh, eh, Bibi Stella,” ujar Kokebi agak tergagap.

“Kenapa kamu sendirian di sini? Teman-temanmu semua berkumpul di sana. Lihat mereka, bersinar dan tertawa-tawa gembira,” kata Bibi Stella.

Kokebi kesulitan menjawab pertanyaan itu. Bagaimana ia bisa menjelaskan perasaannya? Ia hanyalah bintang kecil yang tidak bersinar terlalu terang. Belum pernah ada yang memuji keindahannya. Bahkan malah ada yang membuat lelucon tentang sinarnya yang tidak terang. Tentu saja hal itu membuat hati Kokebi menjadi sedih.

Karena Kokebi diam saja, Bibi Stella bertanya lagi.

“Menurutmu, kamu tidak cantik?” Bibi Stella mengulangi pertanyaannya sebelumnya.

Dengan agak bersungut Kokebi menjawab, “Bibi Stella bisa lihat sendiri, kan.”

“Ya, Bibi bisa lihat,” jawab Bibi Stella santai.

“Tuh, kan,” sahut Kokebi.

“Tapi kamu juga bisa lihat sendiri,” kata Bibi Stella lagi.

“Hah?” ujar Kokebi, tidak mengerti maksud ucapan Bibi Stella.

Tanpa menjawab kebingunan Kokebi, Bibi Stella menanyakan pertanyaan lain.

“Kamu tahu ada berapa jumlah bintang di alam semesta?”

Kokebi berpikir sejenak. Ia tidak tahu pasti jumlahnya. Namun ia menjawab, “Mungkin milyaran jumlahnya.”

Bibi Stella tersenyum. Sinarnya tampak berkerlip indah.

“Misalkan ada satu milyar bintang. Kalau harus membuat ranking mana bintang tercantik dan mana bintang yang paling tidak cantik, alangkah repotnya hidup ini.”

Mendengarnya Kokebi diam saja. Namun tetap saja ia merasa sedih. Walau bagaimanapun, tetap saja ia tidak bersinar seterang teman-temannya.

“Dari satu milyar bintang, bagaimana mungkin tidak satu pun yang menganggapmu cantik?” kata Bibi Stella.

Kokebi masih diam saja.

“Setidaknya, ada satu bintang yang menganggapmu cantik,” lanjut Bibi Stella.

Hanya satu bintang? Siapa itu? Kokebi bertanya-tanya dalam hati.

“Kalau bintang yang satu ini sampai bilang kamu jelek, sungguh keterlaluan sekali,” tegas Bibi Stella.

Keadaan hening. Bibi Stella tidak mengatakan apa-apa lagi. Kokebi masih ragu dengan apa yang hendak ia katakan selanjutnya. Percakapan mengenai cantik atau tidak cantik ini sungguh membuat Kokebi galau. 

Bibi Stella masih terus diam saja. Seolah-olah menunggu Kokebi mengatakan sesuatu. Akhirnya, Kokebi tak tahan lagi. Ia pun berkata,

“Siapa bintang yang satu itu?”

Mendengar pertanyaan itu, Bibi Stella tersenyum riang.

“Siapa? Oh, tentu saja kamu mengenalnya.”

Bibi Stella diam lagi. Sinarnya berkerlip-kerlip jenaka. Bikin Kokebi penasaran saja.

“Oh, ya? Siapa, sih?” tanya Kokebi. Ia benar-benar penasaran.

“Baiklah. Bibi beri tahu. Namanya adalah… Kokebi.”

Mendengar jawaban itu, Kokebi sedikit bengong. Kokebi? Apa ada bintang lain bernama Kokebi? Apakah ia punya teman yang juga bernama Kokebi? Kokebi siapa?

“Kokebi,” Bibi Stella memulai kembali. Kali ini dengan suara lembut dan hangat. “Yang Bibi maksud, tak lain adalah kamu sendiri. Jika dirimu sendiri beranggapan kamu jelek, bagaimana yang lain akan menganggapmu cantik? Lagipula, pujian cantik atau tidak cantik itu hanya deretan kata.”

Bibi Stella berhenti di situ. Kokebi tampak merenungkan kata-kata itu. Bibi Stella melanjutkan kembali.

“Seperti Pluto, sekalipun seluruh alam semesta mengatakan Pluto bukanlah planet, namun Pluto tetaplah benda angkasa yang beredar mengelilingi matahari, sama seperti planet Bumi. Janganlah ejekan dari luar mengganggu kebahagiaan kita. Seperti yang tadi Bibi bilang, itu hanyalah deretan kata. Lagipula, dari satu milyar bintang yang ada, kamu baru bertemu 0,0001 persennya saja. Sisanya bisa saja kelompok yang akan mengatakan bahwa kamu adalah bintang kecil yang tercantik di langit malam.”

Seperti baru teringat sesuatu, Bibi Stella berkata, “Oh, iya. Apa kamu pernah dengar tentang manusia?”

“Manusia?” ulang Kokebi. Baru kali ini ia mendengarnya. Siapa itu Manusia?

“Belum pernah?” tanya Bibi Stella lagi. Kokebi menggeleng.

“Manusia adalah penduduk planet Bumi. Sekali-sekali coba kamu perhatikan mereka.”

“Kenapa?” tanya Kokebi tak paham.

“Kalau ada milyaran bintang, juga ada milyaran makhluk lainnya. Ada planet-planet. Di planet Bumi, hidup milyaran manusia, juga hewan dan tumbuhan. Jadi, kalau ada satu dua bintang yang menyebut kita bintang yang jelek, alam semesta ini terlalu luas untuk hanya merisaukan hal tersebut.”

Setelah mengatakan hal itu, Bibi Stella pergi meninggalkan Kokebi yang masih tak paham. Akhirnya Kokebi mengikuti saran Bibi Stella. Ia mencari tahu letak planet Bumi.

“Itu planet Bumi. Kecil sekali,” gumam Kokebi setelah berhasil mengetahui keberadaan Bumi. “Oh, apa itu yang namanya manusia?”

Lama Kokebi memperhatikan mereka. Para manusia itu tampak saling mengobrol dan bercanda. Wajah mereka mendongak menatap langit. Mereka terlihat gembira. Kemudian Kokebi terperanjat. Salah seorang dari mereka menunjuk ke arahnya. Karena gugup sinar Kokebi jadi berpendar-pendar. Dan Kokebi sungguh kehabisan kata-kata ketika mendengar apa yang dikatakan manusia itu.

Dengan perasaan campur aduk haru biru, sekarang Kokebi pun paham. Bibi Stella benar. Alam semesta ini terlalu luas untuk memikirkan kata-kata dari hanya 0,0001 persen bintang yang ia kenal. Ternyata Kokebi hanya perlu menoleh untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda. Alam semesta ini sungguhlah luas!

***

Di lain tempat, ada sekelompok manusia yang sedang asyik bercakap-cakap di bawah langit malam yang penuh bintang.

“Wah, langitnya cerah, ya?” kata salah seorang dari mereka.

Temannya mengangguk. Sambil menunjuk ke arah langit, ia berkata, 

“Eh, lihat, lihat! Bintang kecil yang di sana itu! Bintangnya berkerlap-kerlip. Indah, ya? Menurutku ia bintang tercantik di langit malam.”


cerita & ilustrasi oleh Angewid
@ange_wid

No comments:

Post a Comment