Thursday, 28 April 2016

MATAHARI DICURI BULAN


ilustrasi-matahari-dicuri-bulan

Fabel

Kiki si anak tupai amat mengagumi rembulan. Ia bisa duduk berlama-lama memandangi bulan. Cici, saudaranya, jadi sering menggodanya. Kata Cici,

“Kenapa kamu suka sekali bulan? Matahari kan lebih istimewa. Ukurannya lebih besar. Sinarnya juga dibutuhkan tumbuhan untuk fotosintesis. Malah matahari adalah pusat tata surya.”


“Tapi aku sangat senang memandangi bulan. Kalau memandang matahari, mataku bisa sakit,” jawab Kiki.

“Coba pikirkan, sinar bulan kan asalnya dari matahari. Kalau matahari menolak memberikan cahayanya, kamu tidak mungkin bisa melihat bulan,” kata Cici.

“Tapi bulan itu sungguh cantik,” ujar Kiki masih tetap dengan pendapatnya.

“Pokoknya matahari itu lebih baik dibanding bulan. Bulan itu tidak ada apa-apanya,” kata Cici tak mau kalah.

Kiki memutar otak. Bukan soal matahari atau bulan yang lebih baik. Semua benda dan makhluk adalah istimewa. Hanya saja Kiki amat menyukai bulan. Bagaimana ia bisa membuat Cici mengerti, ya?

Tanpa disangka-sangka, datanglah sebuah kesempatan. Kiki yakin, ia bisa membuat Cici terpesona. Dengan hati gembira Kiki menghampiri Cici yang tengah asyik mengupas kacang.

“Cici, aku punya berita untukmu!” seru Kiki dengan mata berbinar-binar.

“Berita apa?” tanya Cici penasaran.

“Tahu tidak? Aku dengar kabar, kalau besok pagi matahari akan dicuri bulan!”

“Hah? Matahari dicuri bulan?” ulang Cici tak yakin. “Aku tidak mengerti.”

“Begini,” jawab Kiki menjelaskan. “Cahaya matahari memang sungguh luar biasa. Tapi bulan juga tidak kalah istimewa. Ia bisa mencuri cahaya matahari, sehingga pagi besok suasana akan menjadi sangat gelap. Seperti malam hari.”

Mendengar itu, Cici tertawa. “Mana mungkin. Bagaimana cara bulan mencurinya?”

“Kalau kamu tidak percaya betapa istimewanya bulan itu, tunggu saja besok,” jawab Kiki penuh percaya diri.

Pertahanan Cici mulai goyah melihat keyakinan saudaranya itu. Matahari dicuri bulan? Bagaimana mungkin? Bulan kan sangat kecil bila dibanding matahari. Bagaimana mungkin?

Esok hari belum pernah dinanti-nanti seperti ini. Jantung Cici berdebar-debar. Kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan. Apakah yang dikatakan Kiki benar, bahwa matahari akan dicuri bulan? Rasanya mustahil. Namun, saudaranya Kiki tidak mungkin berbohong. Kiki tidak suka melakukannya. Bagaimana ini? Cici betul-betul dibuat bingung.

Matahari pagi sudah naik. Suasana terang dan ceria. Rasanya tidak mungkin matahari akan hilang dan hari tiba-tiba menjadi gelap.

“Lihat di sebelah situ!” seru Kiki seraya menunjuk ke arah langit.

Sambil melindungi matanya karena sinar matahari yang terang, Cici melihat ke arah yang ditunjuk saudaranya.

“Itu bulan,” kata Kiki.

Kiki benar. Tak jauh dari matahari, terlihat bulan.

“Tak lama lagi bulan akan mendekati matahari. Mencurinya. Dan jadi gelaplah pagi hari ini,” lanjut Kiki seraya mengembangkan senyum.

Cici masih tak habis pikir. Namun seperti yang dikatakan Kiki, bulan memang bergerak mendekati matahari.

“Hati-hati dengan matamu. Memandang matahari secara langsung bisa merusak mata,” Kiki mengingatkan.

Perlahan namun pasti, bulan bergerak mendekati matahari. Suasana meredup ketika sebagian matahari tertutup bulan.

“Cici, apa kamu lihat? Bulan sedang mencuri matahari. Dia sudah mengambil sebagian. Tak lama lagi matahari akan hilang. Suasana akan gelap seperti malam. Matahari dicuri bulan.”

Cici menanti dengan tegang. Apa yang dikatakan Kiki benar. Matahari sudah hilang sebagian. Dan akhirnya menghilang sama sekali. Hari menjadi gelap seperti malam.

“Kiki, matahari telah dicuri bulan! Bagaimana ini?” kata Cici ketakutan.

“Bulan memang tak kalah istimewa dengan matahari. Meskipun ukurannya kecil dan tidak punya cahaya sendiri, tapi bulan bisa mencuri matahari,” kata Kiki.

“Iya, Kiki. Kamu memang benar. Aku akui, bulan memang istimewa. Maafkan aku karena telah meragukan bulan. Tapi, sekarang bagaimana?”

“Cici, kamu tenang saja. Bulan tidak jahat, kok. Dia tidak bermaksud mencuri matahari selamanya. Lihat saja, nanti akan ia kembalikan.”

Apa yang dikatakan Kiki benar. Perlahan bulan bergerak dan mengembalikan sinar matahari sedikit demi sedikit. Suasana mulai kembali terang.

“Tuh, bulan sudah mengembalikan matahari,” kata Kiki. Ia merasa geli melihat ekspresi Cici yang tampak tercengang.

Ketika akhirnya matahari sudah kembali seperti semula, Cici tampak tercenung. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun.

“Cici, apa yang kamu pikirkan?” tanya Kiki penuh perhatian.

“Aku sungguh takjub. Ternyata bulan yang lebih kecil itu bisa mencuri matahari.”

Sambil tersenyum Kiki berkata, “Itu tadi namanya gerhana matahari.”

“Gerhana matahari?” ulang Cici.

“Iya. Kejadian seperti itu tidak terjadi setiap hari. Istimewa, ya?” jawab Kiki.

“Tapi, kenapa gerhana matahari bisa terjadi?” tanya Cici.

“Oh, kalau itu, karena posisi bulan pada waktu gerhana, berada di antara matahari dan bumi. Bayangan bulan menutupi cahaya matahari. Makanya, di bumi jadi gelap seperti malam.”

“Oh, begitu,” ujar Cici sambil mengangguk-angguk.

“Ngomong-ngomong, kamu pernah dengar kalau bumi bisa mencuri bulan?” tanya Kiki santai.

“Bumi mencuri bulan?!” ulang Cici nyaris memekik karena terpana. Kiki hanya mengangguk singkat. “Jangan bercanda!” sambung Cici.

“Kalau kamu tidak percaya, ya sudah,” kata Kiki lalu beranjak meninggalkan Cici yang masih terpelongo. Namun sebelum benar-benar menghilang dari pandangan, Kiki berseru,

“Bumi bisa mencuri bulan! Dan itu namanya gerhana bulan!”


Cerita & ilustrasi oleh Angewid
@ange_wid

No comments:

Post a Comment