Monday, 15 February 2016

ALIF DAN SEPASANG BURUNG HANTU - BAGIAN 1

ilustrasi-alif-dan-sepasang-burung-hantu-bagian-1

Dongeng


Berkat ibunya, Alif sekarang memiliki kostum burung hantu. Ibunya yang pandai merajut, telah membuatkan Alif topi rajutan yang berbentuk kepala burung hantu. Tinggal ditambahkan kacamata berbentuk bundar, penampilan Alif sudah mirip burung hantu. Yah, kecuali ukurannya. Sebagai burung hantu, tentu Alif terlalu besar.


Sudah beberapa minggu ini Alif punya kebiasaan. Ia mengamati sepasang burung hantu yang bersarang di pohon di dekat rumahnya. Dia tidak pernah memberitahu siapapun, kecuali ibunya, kalau ia ingin sekali punya teman seekor burung hantu. Alif pernah membaca bahwa burung hantu bisa terbang nyaris tanpa menimbulkan suara sama sekali. Burung hantu juga bisa berburu dengan mata tertutup. Penglihatan mereka juga sangat baik di kegelapan. Alif sungguh terkesan.

Kata ibu Alif, burung hantu aktif di malam hari. Siang hari mereka habiskan untuk tidur dan beristirahat. Alif jadi kesulitan mendekati mereka. Di siang hari ia bersekolah. Dan di malam hari ia harus tidur. Alif belum punya kesempatan untuk mendekati sepasang burung hantu tersebut. Lagipula Alif khawatir, burung hantu itu akan terganggu dengan kehadirannya.

Lalu ibu memberinya saran,

“Kenapa Alif tidak tanya langsung saja pada burung hantu?”

“Bertanya langsung? Apa mereka mau menjawab?” Alif balik bertanya. Ia sangsi.

“Yah, kalau Alif tidak mencoba bertanya, bagaimana tahu hasilnya,” kata ibu.

Hingga suatu malam, datanglah sebuah kesempatan. Saat itu belum waktu tidurnya Alif. Dan sepasang burung hantu tersebut juga belum pergi berburu makanan.

Dengan mengenakan kostum burung hantunya, perlahan Alif mendekati mereka.

Dalam hati, Alif merasa takut. Bagaimana kalau burung hantu itu langsung terbang pergi ketika melihatnya? Lebih parah lagi, bagaimana kalau mereka malah mencoba mematuknya?

Dalam keheningan malam, tiba-tiba Alif mendengar sebuah suara.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” kata suara itu.

Alif sedikit terperanjat. Ia melempar pandangan mencari sumber suara. Namun ia tidak menemukan siapa pun. Alif jadi merinding.

“Di atas sini,” kata suara itu lagi.

Takut-takut Alif mendongak. Ia hanya menemukan sepasang burung hantu di dahan pohon. Alif memicingkan matanya mencoba melihat lebih jelas dalam gelapnya malam. Namun ia tetap tidak menemukan siapa pun, kecuali si burung hantu.

Terdengar kembali sebuah suara. Bukan main kagetnya Alif. Karena suara itu berasal dari salah seekor burung hantu tersebut. “Aku yang bicara padamu.”

“K-k-kamu bicara? “ kata Alif tergagap.

“Tentu saja. Kami kan masih hidup,” jawab burung hantu yang satu lagi.

Saking terperangahnya Alif, ia sampai tidak sanggup berkata apa pun. Padahal ia sudah merancang percakapan yang ingin ia buat bersama sepasang burung hantu tersebut.

“Kamu burung hantu jenis apa? Aku belum pernah lihat,” kata burung hantu yang pertama.

“Hah?” Alif bengong. Apakah kedua burung hantu itu mengira kalau dirinya adalah salah satu dari jenis mereka?

“Mau berteman dengan kami?” tanya burung hantu yang satu lagi.

“Hah?” Alif makin bengong.

“Ayo, naik ke atas sini. Duduk bersama kami.”

Karena Alif tak kunjung naik ke atas pohon, burung hantu itu pun berseru, “Ayo!”

Dengan gugup Alif memanjat pohon. Dan dengan amat canggung Alif duduk di dahan pohon di sebelah kedua burung hantu.

“Namaku Bubu, dan ini  Pupu. Siapa namamu?” kata si burung hantu.

“Alif.”

Mula-mula ketiga makhluk itu hanya duduk diam. Bubu dan Pupu tampak menikmati suasana malam yang tenang. Sementara Alif tampak bingung. Namun lambat laun, ketiganya mulai bercengkerama. Tentang indahnya langit malam dan hal-hal menyenangkan lainnya tentang terbang dan bintang-bintang. Tanpa sadar ketiganya seperti sahabat karib yang mengobrol hangat karena lama tidak berjumpa. Alif sampai lupa kalau kawan barunya itu burung hantu. Bahkan ia merasa kalau dirinya juga seekor burung hantu. Menyenangkan sekali.

“Kalau Bubu kurang tidur tapi memaksa ingin terbang berburu, mukanya akan kelihatan seperti ini,” Pupu menirukan Bubu. Ia memiringkan kepalanya sambil mengangguk-angguk. Kedua matanya setengah terpejam. Lalu Pupu mengeluarkan suara aneh dari tenggorokannya. “Ghok ghok ghok,” kata Pupu. Alif tertawa geli melihatnya. Bubu malah terpingkal. Ia paling suka kalau Pupu berlakon seperti itu.

“Sepertinya sudah waktunya berburu. Ayo kita terbang,” ajak Bubu. “Alif, ayo ikut bersama kami.”

“Hah? Tapi aku kan tidak bisa terbang.”

“Bagaimana mungkin seekor burung hantu tidak bisa terbang?” sangsi Pupu.

Tiba-tiba Alif merasa bersalah. Bubu dan Pupu betul-betul menyangka kalau dirinya seekor burung hantu. Padahal Alif hanya memakai kostum, mencoba tampak seperti burung hantu.

“A-a-a-aku… aku bukan burung hantu,” ujar Alif. Perasaannya jadi tidak enak.

“Ah, kamu, ada-ada saja. Ayo kita terbang. Nanti keburu pagi,” kata Bubu.

“Tapi…”

“Kenapa?” tanya Pupu dengan suara penuh perhatian. Alif makin merasa tak enak.

“Seperti yang kubilang tadi. Aku bukan burung hantu. Aku hanya mengenakan kostum burung hantu. Makanya aku tidak bisa terbang. Maafkan aku.”

“Alif, kamu baik-baik saja?” tanya Bubu. Mukanya terlihat cemas. Alif tak mengerti dengan rasa cemas yang diberikan itu.

“Alif, sayapmu gemetar.”

“Aku baik-baik saja. Sayapku tidak gem—“ Kalimat Alif berhenti di situ. Sayap? Apakah Pupu baru saja menyebut sayap? Tetapi kostum Alif tidak dilengkapi sayap.

Dengan jantung berdetak cepat, Alif perlahan mengangkat tangannya. Sayangnya, ia tidak bisa menemukan kedua tangannya. Yang ia temukan hanyalah sepasang sayap burung hantu…

Bersambung


Cerita & ilustrasi oleh Angewid
@ange_wid

1 comment:

  1. lucu banget ceritanya... ditunggu kelanjutannya yaa...

    ReplyDelete